Sunday, January 08, 2023

Tanggal-Tanggal Penting di CBN :-)


Happy Annyversary CBN ke-27

(8 Januari 1996 - 8 Januari 2023)


26 Oktober 2000

Pembukaan Kantor Cabang Pertama di CBN Bogor

1 Maret 2001

Pembukaan Kantor Cabang CBN Bandung

6 September 2002

CBN membuka POP baru di Kebayoran

1 Oktober 2002

Pembukaan Kantor Subnode CBN Samarinda

1 Juli 2006

Pembukaan Kantor Cabang CBN Bali

25 Juli 2008

Penutupan POP Kebayoran, Gambir, Cengkareng.

18 Maret 2009

Pembukaan Kantor Cabang CBN Connex Serpong

23 November 2009

Headquarter CBN pindah ke Gedung Cyber2 Tower

7 September 2015

Pembukaan Kantor Cabang CBN Medan

28 Januari 2016

Pembukaan Kantor Cabang CBN Palembang

November 2017

Pembukaan Kantor Cabang CBN Surabaya

9 Agustus 2022

Pembukaan Kantor Cabang CBN Semarang

Tuesday, March 08, 2022

Cerita tentang penutupan rekening BNI Syariah.

Hari ini pas WFO di Cyber2 dan pagi ini saya ke BNI Syariah yang ada di Tempo Pavilion.

Tujuan mau menutup rekening BNI Syariah ini karena sudah lama tidak dipakai. Lagi pula sekarang BNI Syariah sudah merger dengan beberapa Bank syariah lainnya menjadi BSI. 

Ternyata, karena pada saat saya membuka rekening tabungannya dilakukan di kantor Cabang Jakarta Utara, maka menurut penjelasan dari CS, prosedur menutup rekeningnya harus dilakukan di kantor tempat pembukaan rekeningnya. Jauh banget dong.

Ternyata lagi, CS-nya info lagi, kalau penutupan tetap bisa dilakukan di BNI Syariah di Tempo Pavilion, hanya saja nanti ada berkas hardcopy yang perlu dikirim ke kantor tempat pembukaan rekening, menggunakan kurir (dia juga bilang bisa menggunakan seperti go-send) dan biayanya akan dibayarkan oleh nasabah. 

Ok Fine, karena memang sudah tidak digunakan lagi, dan lumayan jauh juga jika saya harus ke daerah Kelapa Gading nun jauh di sana, maka saya pun menyetujui.

Selanjutnya permohonan penutupan saya diproses, dan saldo tersisa yang tidak seberapa itu akan diberikan tunai, tapi tidak bisa saat itu juga, nanti akan dihubungi lagi (entah kapan) oleh CS-nya, kapan akan diserahkan uangnya. Sepertinya nanti akan termasuk kabar tentang pengiriman berkas hardcopy-nya berikut besaran biaya go-sendnya. Mungkin ya. 

Oh iya, satu lagi. Di rekening saya itu terhubung dengan rekening pelajar (Tunas Card) anak saya, dan mau saya tutup juga. Tetapi karena saya tidak membawa buku tabungan anak saya, maka proses penutupan rekening pelajar itu tidak bisa dilakukan, kecuali membuat surat keterangan hilang dulu di kantor Polisi. Padahal kan udah mau ditutup ya, kenapa dilaporkan hilang lagi. 

Baik lah, khusus untuk rekening anak saya, terpaksa saya tunda dulu, nanti saya akan kembali lagi dengan membawa buku tabungannya. Semoga bukunya masih ada, karena kalau sudah tidak ada, maka saya harus ke kantor polisi dulu, bikin surat keterangan hilang, baru ke Bank BSI (d/h BNI Syariah) lagi yang ada di Tempo Pavilion.

Itu aja sih cerita singkatnya, what do you think? :-) 

Wednesday, July 23, 2014

Tahun-tahun penuh tipu daya


"Akan datang kepada manusia tahun-tahun yang penuh tipu daya. Dimana pendusta dipercaya dan orang jujur didustakan. Pengkhianat diberi amanah dan orang yang amanah dikhianati." 
(HR. Al-Hakim)

Tuesday, July 22, 2014

Nasehat Menjelang Penetapan Hasil Pemilu Presiden 2014

Kekuasaan hanya milik Allah SWT.
Dia yang memilikinya,
Dia memberikan kepada siapa yang dikehendakiNya,
Dia mencabut dari siapa yang dimauiNya.
DitanganNya segala kebaikan.

Berarti kepadaNya meminta pemimpin,
KepadaNya memohon penguasa yang baik,
KepadaNya memohon perlindungan agar dijauhkan dari pemimpin-pemimpin yang zhalim.

Dan hendaknya kita banyak berdo'a serta jangan pernah menganggap remeh sebuah do'a. Berdo'alah seperti do'a Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dengan ucapan:

ALLAHUMMA INNI A'UDZUBIKA MIN IMAARATISHSHIBYAAN WAS SUFAHAA'

"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu agar tidak dipimpin oleh orang-orang yang kekanak-kanakkan dan orang-orang yang bodoh."

Tapi jangan lupa firman Allah ta'ala:

وَكَذَلِكَ نُوَلِّي بَعْضَ الظَّالِمِينَ بَعْضًا بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Demikianlah kami jadikan sebagaian orang zhalim sebagai pemimpin bagi orang zhalim yang lain, disebabkan perbuatan maksiat yang telah mereka lakukan.” (QS.  Al-An’am: 129)

“Sebagaimana kondisi kalian, maka seperti itulah pemimpin yang akan mengatur kalian. Pemimpin kalian itu sesuai dengan amal kalian.”

Maka jangan mengharapkan buah anggur, bila yang kau tanam adalah onak dan duri. Mengharap pemimpin yang muslim, baik dan jujur, selain berdoa harus dibalut dengan usaha memperbaiki rakyat yang mana merekalah basis utama para pemimpin. Perbaikilah iman, tauhid dan ibadah ummat. Bumi ini milik Allah, Dia mewariskan kepada hamba-hamba yang dikehendakiNya, dan akhir yang baik adalah untuk orang-orang yang bertaqwa. Ingatlah pesan Nabi Musa 'alaihissalam kepada kaumnya:

“Mohonlah pertolongan kepada Allah dan  bersabarlah. Sesungguhnya bumi ini milik Allah, Dia memberikannya kepada siapa saja hamba yg dikehendaki-Nya. Dan akhir yang baik adalah bagi orang-orang yang bertakwa” (QS. Al-A’raf:128)

Tetap optimis dan berusaha memperbaiki dengan berbalut doa  yang tulus.

Baarakallahu fiykum 

Ust. DR. Syafiq Basalamah MA

Friday, July 11, 2014

APAKAH SAMPAI PADAMU BERITA TENTANG MAHANAZI?

APAKAH SAMPAI PADAMU BERITA TENTANG MAHANAZI?

(Helvy Tiana Rosa)

Kabar apakah yang sampai padamu tentang Palestina?

Apakah sampai padamu berita tentang rumah-rumah yang dihancurkan tanah-tanah meratap berpindah tuan, bahkan manusia yg dibuldozer?

Apakah sampai padamu berita tentang air mata yang tumpah dan menjelma minuman sehari-hari tentang jadwal makan yang hanya sehari sekali atau listrik yang menyala cuma empat jam sehari?

Apakah sampai padamu berita tentang kanak-kanak yang tak lagi berbapak, tentang ibu mereka yang diperkosa atau diseret ke penjara?

Para balita yang menggenggam batu dengan dua tangan mungil mereka menghadang tentara zionis Israel, lalu tangan kaki mereka disayat dan dibuntungi

Apakah sampai padamu berita tentang masjidil Aqsha di halamannya menggenang darah dan tubuh-tubuh yang terbongkar

Peluru yang berhamburan di udara menyanyikan lagu kematian menyayat nadi kekejaman yang melebihi fiksi dan semua film yang pernah kau tonton di bioskop dan televisi

Kebiadaban yang mahanazi

Tapi orang-orang di negeriku masih saja mengernyitkan kening;

“Palestina? Untuk apa memikirkan Palestina? Persoalan di negeri sendiri menjulang!”

Mereka bersungut-sungut tak suka

Membatu,

tak jarang terpengaruh menuduh pejuang kemerdekaan Palestina yang membela tanah air mereka sendiri sebagai teroris!

Duhai, maka kukatakan pada mereka: Tanpa abai pada semua persoalan di negeri ini

Atas nama kemanusiaan: menyala-lah!

Kita tak bisa hanya diam menyaksi pagelaran mahanazi, sambil mengunyah menu empat sehat lima sempurna dan bercanda di ruang keluarga

kita tak bisa sekadar menampung pembantaian-pembantain itu dalam batin atau purapura tak peduli

Seorang teman Turki berkata:

"mereka yang membatasi ruang kemanusiaan dengan batas-batas negara, sesungguhnya belum mengerti makna kemanusiaan

Hai Amr Moussa tanyakan pada Liga Arab belum tibakah masanya bagi kalian bersatu, membuka hati, berani berhenti mengamini nafsu Amerika yang seharusnya kita taruh di bawah sepatu?

Hai Ban Ki Moon, apakah Perserikatan Bangsa-Bangsa itu nyata? Sebab tak pernah kami dengar PBB mengutuk dan memberi sanksi pada mahanazi teroris zionis Israel yang pongah melucuti kemanusiaan dan keberadaban dari wajah dan hati dunia

Apakah kalian, apakah kita tak malu,
Pada para syuhada;

Flotilla, Rachel Corrie, Yoyoh Yusroh dan George Galloway?

Karena sesungguhnya kita bisa melakukan sesuatu: menyebarkan tragedi keji ini pada hati-hati yang bersih, memberi meski sedikit apa yang kita punya dan mendoakan Palestina

Apakah sampai padamu, berita tentang mahanazi itu?

Tentang Palestina yang bersemayam kokoh di hati mereka yang diberi kurnia?

Seperti cinta yang tak bisa kau hapus dari penglihatan dan ingatan, airmata, darah, dan denyut nadi manusia

: Lawan Mahanazi!

----
#SpiritOfRamadhan
#PrayForGaza

Tuesday, October 23, 2012

Tips Perpanjang STNK Motor di STNK Keliling


Ini berdasarkan "true story", ketika saya memperpanjang STNK kendaraan jenis Sepeda Motor, pada hari Senin, 22 Oktober 2012 yang lalu. Oh iya, gambar di sebelah hanya sekedar ilustrasi saja ya, bukan foto sebenarnya di TKP :)

OK. Yang perlu disiapkan! :)

1. Mental, kudu siap kalau nanti dikerjain sama Petugas Loket alias Pak Polisi-nya :)

2. Pada hari kita mau ke STNK Keliling, check dulu lokasi bus-nya, lagi ada di daerah mana. Caranya check lewat situs TMC Polda Metro Jaya. Misalnya, saya perlu yang di daerah Jakarta Selatan, berarti saya tinggal pergi ke Stasiun Tanjung Barat, jangan pergi ke Cilandak Town Square apalagi ke Bandung Indah Plaza :)

3. Ingat Jam Operasional-nya.

Senin - Jum'at  : 08:00 s/d 14:00 WIB
Sabtu               : 08:00 s/d 11:00 WIB

4. Syarat Dokumen yang harus dibawa.

- BPKB Asli
- KTP Asli *
- STNK Asli

Catatan:

*) Nama tertera di KTP harus sama dengan nama tertera di STNK **

**) Kalau lagi memperpanjang STNK istrinya, jangan lupa suaminya kudu bawa KTP-nya sendiri, yang Asli dan alamat di KTP si suami dan alamat di KTP si istri harus SAMA. Sekali lagi, HARUS SAMA!

Kenapa harus sama? nanti pasti pak Polisinya tanya, "Lho, ini kenapa nggak satu rumah?" :p (eh tapi ini serius!) dan kalau beneran terjadi, maka si Pak Polisi akan menyuruh kita mengurus alamat di KTP ini dulu atau disuruh ke Daan Mogot *tepokjidat!*

5. Tidak perlu repot-repot nyiapin fotocopy STNK dan KTP sendiri, percuma! Karena di Bis itu sudah ada fasilitas untuk foto copy! (ya bayar! pertanyaan bodoh!) :D Canggih ya?, jangan-jangan di Bis itu juga ada fasilitas buat bikin spanduk, sablon kaos, bikin pamflet *menghayal*

6. Siapkan pulpen untuk isi formulir, kalo sampe lupa bawa, tenaaang, di sekitar Bis Keliling itu pasti ada yang jual deh, yakin! :D atau kalau kamu mau jualan juga boleh kok, bawa yang banyak! :p

7. Siapkan uang, lihat berapa besarnya pajak tahun lalu, tinggal tambahin dikit buat denda (kalo lewat tanggal alias jatuh tempo) atau tambahin recehan buat kembalian, uang foto copy, uang parkir atau beli teh botol karena pasti panas banget :D

8. Oh iya, sebelum lupa, jangan dateng antara jam 12:00 s/d 13:00, soalnya Pak Polisinya lagi pada makan siang atau lagi tiduran kalo yang puasa :p

9. Bawa Gadget, Buku etc, for killing time :)



Nah sekarang urutannya.

1. Di salah satu pintu Bis, minta formulir, isi formulirnya dan jangan lupa, tanda tangan.

2. Pindah ke Pintu Bis satunya lagi, yang buat foto copy, seperti ini:


3. Oleh petugas, semua KTP, STNK dan BPKB akan difoto copy dan diatur sedemikian rupa, sampai jadi seperti di foto ini ('kan namanya juga memperpanjang STNK, jadi lah eta panjang-panjang) hehehe... di sini bayar Rp. 3.000 sajah!


4. Setelah foto copy selesai, pindah ke loket yang ada tulisan "Loket Pendaftaran" Ngantri doong! :)


5. Pas dipanggil, di sini lah verifikasinya apakah STNK-nya bisa diperpanjang atau kah ada masalah dan perlu ke Daan Mogot dsb. Siap-siap dikerjain sama Pak Polisinya deh :) Trus KTP dan BPKB Asli sudah bisa diambil di bagian sini.

6. Abis itu, ngantri lagi, nunggu dipanggil buat bayar ke Loket KPKD/Kasir. Setelah bayar, nanti dikasih tanda terima sementara, bentuknya seperti STNK dummy.

7. Trus, tunggu dipanggil lagi buat ambil STNK yang sudah jadi, plus amplop plastik tempat SIM/STNK yang baru, dengan menyerahkan tanda terima STNK dummy yang tadi.

8. Total proses waktu yang dibutuhkan tadi adalah 30 menit :) (only if you're lucky)

9. Contoh cara mengantri :)


10. Semboyan Polisi :)


11. Jangan lupa, kita harus bayar ini, suka atau tidak suka :)


12. Selamat Memperpanjang! :)

Monday, March 19, 2012

Dunia Sebesar Rumah

dakwatuna.com – Kian hari, dunia semakin komplit dengan berbagai cerita. Bumi kian sempit dengan banyaknya penghuni, yang sebagian besar adalah perempuan. Para perempuan kemudian menciptakan cerita hidupnya sendiri. Ada yang lebih dari separuh harinya habis di luar rumah, ada pula yang tujuh hari dalam sepekan berlindung dari ultra violet di dalam rumah orangtua atau suaminya.

Mereka yang beranggapan bahwa perempuan memiliki hak yang sama dengan laki-laki, pada umumnya lebih suka berkiprah di luar rumah dengan segudang agenda. Mereka aktif, percaya diri, dan tentunya, mudah bergaul. Kalangan agamis kerap menganggap perempuan di bilah ini sebagai penentang fitrah. Padahal sebenarnya, legitimasi cap tersebut tidak melulu datang dari segi agama.

Budaya punya peran besar terhadap ketersembunyian para perempuan. Sayangnya, perlakuan tersebut tidak selalu menunjukkan sebuah bentuk perlindungan terhadap perempuan, tapi lebih pada pembedaan level manusia. Contohnya, beberapa daerah di Indonesia yang masih menganggap tugas laki-laki hanya mencari nafkah, sehingga tanggung jawab rumah tangga selebihnya diserahkan pada perempuan. Akibat banyaknya tugas yang diemban, perempuan tak lagi memiliki kesempatan bersosialisasi dengan lingkungannya, apalagi berkonsolidasi dengan komunitasnya. Karena tak memiliki kesempatan—misalnya—berbagi ilmu, maka untuk apa ia berilmu. Pada lingkaran ini, akan muncul persepsi bahwa perempuan tak perlu sekolah karena kelak persinggahan terakhirnya adalah dapur dan sumur. Ke mana cerita gravitasi, untuk apa rumus persamaan reaksi? Dan algoritma tak akan berguna.

Tak dipungkiri, banyak Muslimah yang memilih tetap berada di rumah dengan berbagai alasan. Tapi oleh pihak yang kecanduan mendiskreditkan Islam, hal tersebut di-blow up sedemikian rupa, seolah-olah perempuan-perempuan Muslim dikandangi oleh suami atau orangtua mereka.

Coba kita telaah kisah-kisah para shahabiyah. Banyak dari mereka yang menjadi pebisnis, bahkan istri pertama Rasulullah saw adalah seorang pedagang besar. Bayangkan, jika beliau sehari-hari berada di dalam kamar, apa yang bisa diperbuat untuk mengembangkan bisnisnya.

Dalam beberapa peperangan pun, kerap dikisahkan aksi heroik para mujahidah dalam membela Islam. Kita tentu kenal pada Nusaibah yang digelari Tameng Rasulullah saw. Bagaimana kiranya ia sampai di medan perang jika sehari-hari hanya berkubur gandum di dapur. Hal ini membuktikan, bahwa Rasulullah saw tidak memberlakukan peraturan yang saklek terhadap perempuan. Artinya, rambu-rambu tetap ada, tapi tidak mengabaikan hak-hak perempuan itu sendiri. Misalnya, ketika Rasulullah saw mengimbau para perempuan agar shalat di rumah, beliau menambahkan sabdanya dengan larangan menghalangi hamba Allah (yang perempuan) untuk shalat ke masjid.

Dakwah ataupun mencari nafkah pada dasarnya adalah ibadah. Wajar kiranya para Muslimah menginginkan pula pahala dari apa yang bisa ia perbuat, karena hak berkarya sudah menjadi milik bersama. Yang perlu diperhatikan adalah etika ketika ia berada di luar jangkauan orangtua atau suaminya. Maka, untuk melaksanakan niat baik tersebut, seorang perempuan patut mengikuti rambu berikut:
  1. Mengenakan pakaian yang menutup aurat (al-Ahzab 59). Berada di rumah pun, jika dalam satu atap terdapat orang lain yang bukan mahram, kewajiban menutup aurat tetap berlaku.
  2. Tidak tabarruj, yakni berhias berlebihan seperti orang-orang jahiliyah yang sengaja memamerkan kecantikan/perhiasan. (Al-Ahzab 33). Jahiliyah masa kini mungkin lebih jahil (bodoh) dari sebelum ayat di atas turun.
  3. Tidak mendayu-dayukan suara (al-Ahzab 32). Maksudnya, melunakkan suara secara berlebihan. Sebab itu, nasyid yang dilantunkan oleh perempuan sebaiknya hanya didengar oleh perempuan.
  4. Menjaga pandangan (an-Nuur 31). Kewajiban yang identik dengan laki-laki ini juga berlaku bagi perempuan, karena pada dasarnya laki-laki dan perempuan adalah bersaudara. Apa yang dialami atau dirasakan laki-laki, kerap dirasakan pula oleh perempuan.
  5. Menghindari fitnah. Niat baik tak selamanya berhasil baik. Salah langkah, salah bertindak, salah ucap dapat mengakibatkan mudharat. Tapi perbuatan apa yang tidak mengandung risiko? Antisipasi saja semampunya.
  6. Mendapat izin dari orangtua atau suami. Yang paling membedakan budaya Barat dengan Timur seputar perempuan adalah pada poin ini. Barat yang tergila-gila pada kebebasan bukan saja membiarkan para perempuan keluar tanpa batas, mayoritas orangtua bahkan menitahkan mereka keluar untuk bekerja. Apa pun pekerjaan itu. Sedangkan Timur, terkesan menutup rapat kesempatan perempuan keluar dari dunia sebesar rumah. Tapi kita tetap bisa berada di antara keduanya.
Meski perempuan dibolehkan keluar rumah dengan ketentuan di atas, tetap berada di rumah adalah pilihan terbaik, jika memang tidak ada keperluan mendesak yang harus diselesaikan. Mendesak atau tidak keperluan itu, hanya Allah dan kita yang tahu.

Posted By Ummu ‘Aifah On 19 Maret 2012

http://www.dakwatuna.com/2012/03/19430/dunia-sebesar-rumah/

Monday, February 06, 2012

Gunakan Bahasa Asing :)

Jika Anda tengah mengalami masalah di tempat kerja Anda, misalnya saja masalah yang disebabkan karena tugas yang tidak dapat Anda tunaikan dengan baik atau bisa jadi karena project yang tengah Anda tangani gagal sehingga membuat murka management.

Setelah saya perhatikan, ada satu tips yang bisa saya share di sini untuk mengatasi masalah seperti ini. Tips ini adalah hasil observasi saya di suatu tempat kerja yang mungkin bisa berguna dan dapat Anda terapkan di lingkungan tempat kerja Anda bekerja saat ini. Menurut saya, tips ini cukup ampuh dan efektif, walaupun agak sedikit subyektif, sehingga perlu dielaborasi lebih dalam lagi.

Tips itu adalah gunakan "Bahasa Asing" :)

Ya, gunakan bahasa asing! Apapun bahasa asing yang anda kuasai, gunakanlah! Tapi karena pada umumnya lebih common menggunakan bahasa Inggris, maka gunakanlah bahasa Inggris dalam penyampaian alasan, penjelasan atau laporan pertanggung-jawaban Anda.

Dalam berkomunikasi, menurut Laswell ada beberapa komponen yang menunjang suatu proses komunikasi berjalan dengan baik, di antaranya adalah: Komunikator, Pesan, Komunikan, Media, Feedback dan Aturan (protokol) dalam hal ini komponen yang terakhir bisa kita abaikan, karena tidak diperlukan dalam proses bagaimana cara mengelak dari masalah yang tengah menghimpit Anda. Ingat tujuannya adalah menjawab atau mengelak dengan menggunakan bahasa Asing! :)

Sehingga dalam hal ini maka:
  1. Komunikator adalah Anda (orang yang tengah bermasalah :p) 
  2. Pesan adalah alasan yang sebenarnya anda ingin sampaikan tapi akan dibuat sedikit bias dan samar karena menggunakan bahasa asing.
  3. Komunikan, bisa merupakan teman sejawat anda, atasan atau pihak manajemen yang ingin anda kirimkan laporannya.
  4. Media, bisa berupa e-mail, karena terbukti lebih efektif dan usahakan jangan verbal.
  5. Feedback, jika tidak ada yang reply e-mail Anda berarti tujuan Anda tercapai! :)
Seberapa blepotannya grammar dan tingkat penguasaan Anda dalam berbahasa Inggris, hal ini tidak menjadi masalah, karena tujuan Anda sebenarnya adalah mengaburkan masalah yang terjadi dengan memberikan alasan yang, hopefully, tidak dimengerti karena menggunakan bahasa Asing.

So, silakan dipraktikan, 'cause it works! (kalau dari observasi saya lho ya!)

At least dengan menggunakan bahasa Asing, maka Anda akan terlihat smart (walaupun grammar-nya kalah oleh anak SMP dan Anda ternyata lulusan luar negeri!) dan para komunikan (walau tidak ada satu pun yang berbahasa navite Inggris) tidak akan perduli dengan apapun alasan yang Anda coba sampaikan. mungkin karena tidak mengerti atau tidak mau repot baca email berbahasa Inggris :) akhirnya Anda akan selamat dan dijamin tidak terkena sanksi! :)

Selamat Mencoba! And don't forget, use at your own risk :)

Ps: agar tidak dibilang asbun, saya punya sample emailnya (for your ready reference only)




Sunday, January 01, 2012

Generasi Umat Lip Sync dan Banyak Alasan.

Walaupun setiap tahun terjadi, ternyata hanya sedikit saja umat Islam yang menyadari. Acara ritual pergantian malam tahun baru yang merupakan malam pergantian tahun masehi selalu dirayakan dengan sepenuh hati; membakar jagung, memanggang ikan, meniup terompet, berkeliling kota, sampai membakar dan menghamburkan uang di petasan dan kembang api.  Tidak hanya terjadi di perkotaan, bahkan di desa dan perumahan (dengan emblem "Perumahan Muslim" yang melekat pada namanya pun) tak luput dari perayaan ini.

Secara syar'i, merayakan 1 Muharam saja sudah tidak pernah ada tuntunannya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam, apalagi merayakan Malam Tahun Baru Masehi. Semakin hari semakin banyak umat Islam yang tidak tahu, pura-pura tidak tahu bahkan tidak mau tahu. Entah karena ketiadaan ilmu (kenapa tidak mengaji?, membaca buku?, bertanya ke alim ulama?), entah karena agar dibilang bergaul sehingga larut dalam perayaan, entah karena alasan setahun sekali pengen lihat kembang api, disuruh bos bikin acara, alasan nggak enak lah sama ini dan itu, sampai acara bid'ah yang terpaksa diadakan dengan alasan untuk melawan acara duniawi.

Banyak yang berharap dan berdo'a di setiap malam pergantian tahun masehi agar menjadi lebih baik, tapi sesaat setelah perayaan, sholat Shubuh pun lewat karena bangun kesiangan, apakah itu yang dibilang menjadi lebih baik? Bagaimana mau lebih baik?

Umat Islam saat ini menjadi "Generasi Umat Islam Lip Sync dan Banyak Alasan."  Karena ucapan dan harapan hanya berhenti di bibir saja, tidak pernah sampai pada perbuatan nyata. Karena ketika ada yang mengingatkan kesalahannya, selalu saja ada alasan baru yang tercipta. Walaupun pada hakikatnya semua hanyalah sebuah justifikasi semata.

Hanya ada dua Hari Raya saja dalam Islam, yaitu Idul Fitri dan Idul Adha (HR. Abu Dawud no: 1134, dihukumi shahih oleh Al-Albani) Dalam Islam, perayaan hari raya bukanlah hanya sekedar adat, tapi juga ibadah yang sudah diatur tata cara pelaksanaannya, jadi jelas pergantian malam tahun baru masehi bukanlah hari raya yang harus diikuti.

Kita seringkali ingin menjadi hamba yang bersyukur, tapi tidak mau mempelajari ilmunya, termasuk tidak bersyukur adalah ketika salah dalam mengikuti dan memilah mana perayaan yang ada tuntunannya dan mana yang tidak.  

Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu, pernah mendengar seseorang berdo’a, “Ya Allah, jadikanlah aku termasuk golongan yang sedikit." Mendengar itu, Umar bin Khattab Radhiallahu ‘anhu terkejut dan bertanya, “Kenapa engkau berdoa demikian?” Sahabat itu menjawab, “Karena saya mendengar Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman, “Dan sedikit sekali dari hamba-hambaKu yang bersyukur," makanya aku memohon agar aku termasuk yang sedikit tersebut.

Allah Subhanahu wa Ta’ala juga berfirman, "Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu."  (QS. At-Tahriim: 6) Sehingga termasuk di dalamnya adalah mulai mengajarkan dan mendidik anak kita untuk tidak mengikuti perayaan apapun yang tidak pernah ada tuntunannya dari Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa salam.

Dari Abu Sa‘id Al Khudri, ia berkata: “Rasululah Shallallahu ‘alaihi wa salam, bersabda: "Sungguh kalian akan mengikuti jejak umat-umat sebelum kalian, sejengkal demi sejengkal, sehingga kalau mereka masuk ke dalam lubang biawak, niscaya kalianpun akan masuk ke dalamnya."  Mereka (para sahabat) bertanya: ‘Wahai Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa salam, apakah kaum Yahudi dan Nasrani?’ Sabda beliau: “Siapa lagi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Wallahu'alam bi shawab.

Kukusan, Depok. 1 Januari 2012.

Monday, July 11, 2011

50 tahun mendatang anak kita...

50 tahun yang akan datang, anak-anak kita mungkin sedang mengendalikan dunia dan memenuhi hatinya dengan zikir kepada Allah


50 tahun yang akan datang…

Mungkin kita sudah mati dan jasad kita dikubur entah dimana; atau sedang tua renta sehingga harus berpegangan tongkat untuk berjalan; atau sedang menjemput syahid di jalan Allah di hari yang sama dengan hari ketika kita bertemu sekarang dan jam yang sama dengan jam saat kita berbincang; atau kita sedang menunggu kematian datang dengan kebaikan yang besar dan bukan keburukan. Allahumma amin…

50 tahun yang akan datang…

Anak-anak kita mungkin sudah tersebar di seluruh dunia. Saat itu, mungkin ada yang sedang menggugah inspirasi umat Islam seluruh dunia, berbicara dari Mesir hingga Amerika, dari Al-Makkah al-Mukarramah hingga Barcelona . Ia menggerakkan hati dan melakukan proyek-proyek kebaikan sehingga kota-kota yang pernah terang benderang di zaman keemasan Islam, dari Gibraltar hingga Madrid, dari Istambul hingga Shenzhen, kembali dipenuhi gemuruh takbir saat penghujung malam datang. Sementara siangnya mereka seperti singa kelaparan yang bekerja keras menggenggam dunia. Mereka membasahi tubuhnya dengan keringat karena kerasnya bekerja meski segala fasilitas dunia telah ada, sementara di malam hari mereka membasahi wajah dan hatinya dengan airmata karena besarnya rasa takut pada Allah Ta’ala. Rasa takut yang bersumber dari cinta dan taat kepada-Nya.

Ya, mereka gigih merebut dunia bukan karena gila harta dan takut mati, tetapi karena ingin menjadikan setiap detik kehidupannya untuk menolong agama Allah ‘Azza wa Jalla dengan mengambil fardhu kifayah yang belum banyak tertangani. Gigih bekerja karena mengharap setiap tetes keringatnya dapat menjadi pembuka jalan ke surga.

Kelak (izinkan saya bermimpi) anak-anak kita bertebaran di muka bumi. Meninggikan kalimat Allah, menyeru kepada kebenaran dengan cara yang baik¸ saling mengingatkan untuk menjauhi kemunkaran, dan mengimani Allah dengan benar. Tangannya mengendalikan kehidupan, tetapi hatinya merindukan kematian. Bukan karena jenuh dan berputus asa terhadap dunia, tetapi karena kuatnya keinginan untuk pulang ke kampung akhirat dan mengharap pertemuan dengan Allah dan rasul-Nya.

Mereka inilah anak-anak yang hidup jiwanya. Bukan sekadar cerdas otaknya. Kuat imannya, kuat ibadahnya, kuat ilmunya, kuat himmah-nya, kuat ikhtiarnya, kuat pula sujudnya. Dan itu semua tak akan pernah terwujud jika kita tidak mempersiapkannya, hari ini!

50 tahun yang akan datang…

Anak-anak kita mungkin sedang mengendalikan dunia dan memenuhi hatinya dengan zikir kepada Allah. Mereka mungkin sedang mengendalikan jaringan bisnis besar, supermarket–hypermarket hingga perusahaan-perusahaan manufaktur berteknologi tinggi di seluruh dunia.

Sebagian lainnya mungkin sedang memimpin ma’had putri yang setiap alumninya menjadi penentu sejarah dunia. Bukankah al-ummuh madrasah al-ula (ibu adalah madrasah pertama) yang membentuk karakter dan cara berpikir satu generasi di belakangnya? Maka mempersiapkan visi dan kecakapan seorang ibu sama pentingnya dengan mempersiapkan peradaban umat ini lima tahun ke depan. Membiarkan anak-anak perempuan menyibukkan diri dengan hasrat untuk memperoleh perhatian lawan jenis, seperti mengizinkan masa depan agama dan umat ini hancur.

Anak-anak itu harus dibekali agar kelak mampu menjadi perempuan untuk agama ini; yang setiap tutur katanya akan meninggikan kalimat Allah. Sementara rahimnya, tidaklah akan tumbuh benih di dalamnya kecuali generasi yang sejak awal pertemuan sudah bertabur kalimat suci. Bukankah kepribadian itu terbentuk sejak benih bapak-ibunya bertemu? Bagaimana kedua orangtua mereka mempertemukan benih, sangat mempengaruhi bagaimana benih itu kelak akan tumbuh dan berkembang.

Persiapkan pula anak laki-laki kita agar menjadi pemberani bagi agama ini. Mereka menghiasi hidupnya dengan tangis di malam hari, dan usaha yang gigih di siang hari. Mereka mampu menegakkan kepala dengan ‘izzah (harga diri) yang tinggi di hadapan manusia karena kehormatannya, kemuliaannya, keimanannya, dan kekuatannya. Tetapi terhadap istrinya, sikapnya lembut penuh cinta. Bukankah untuk melahirkan anak-anak yang hebat dan shalih, pintu pertamanya adalah mencintai ibu mereka dengan sepenuh hati?

Ketulusan cinta mampu menggerakkan hati para bunda untuk tak henti-hentinya memberi perhatian. Ia tetap mampu tersenyum di saat anak bangun tengah malam, tepat ketika ia baru saja terlelap, meski ada suami yang mencintainya sepenuh hati sepenuh jiwa. Seorang suami yang bukan hanya memberikan harta, lebih dari itu memberikan perhatian dan kesediaannya berbagi.

‘Aisyah Radhiyallahu ‘anha menangis kagum kepada suaminya, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam, karena perhatiannya yang lembut? Sebagaimana dinukil Ibnu Katsir, ‘Aisyah menangis seraya berucap, “Kaana kullu amrihi ‘ajaba (Ah, semuanya menakjubkan bagiku),” tatkala ditanya tentang apa yang paling berkesan baginya dari Rasulullah. Ia kemudian bertutur tentang bagaimana Rasulullah meminta izin kepadanya untuk qiyamul-lail. Hanya itu. Tetapi perkara yang kecil itu tak akan hadir jika tak ada perhatian yang besar.

50 tahun yang akan datang…

Di negeri ini… kita mungkin menemui pusara bapak-bapak yang hari ini sedang mewarnai anak-anak kita. Mereka terbujur tanpa nisan tanpa prasasti, sementara hidangan di surga te lah menanti. Atau sebaliknya, beribu-ribu monumen berdiri untuk mengenangnya, sementara tak ada lagi kebaikan yang bisa diharapkan. Mereka menjadi berhala yang dikenang dengan perayaan, tetapi tak ada doa yang membasahi lisan anak-anaknya. Na’udzubillahi min dzalik.

Betapa banyak pelajaran yang bertabur di sekeliling kita; dari orang-orang yang masih hidup atau mereka yang sudah tiada. Tetapi betapa sedikit yang kita renungkan.

Kisah tentang KH Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah) yang mengulang-ulang pembahasan tentang Al-Maa’uun hingga menimbulkan pertanyaan dari murid-muridnya, masih kerap kita dengar. Jejak-jejak kebaikan berupa rumah sakit, panti asuhan, dan sekolah-sekolah, masih bertebaran. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya yang membuatnya bergerak menata akidah umat ini, rasanya semakin sulit kita lacak.

Tulisan pendiri Nahdlatul ‘Ulama, Hadratusy-Syaikh Hasyim Asy’ari, sahabat dekat KH Ahmad Dahlan, masih bisa kita lacak, meski semakin langka. Tetapi jejak-jejak ruhiyah dan idealismenya semakin sulit ditemukan. Apa yang dulu diyakini haram oleh Hadratusy-Syaikh, hari ini justru dianggap wajib oleh mereka yang merasa sebagai pengikutnya.

Apa artinya? Iman tidak kita wariskan, kecuali kalau hari ini kita didik mereka dengan sungguh-sungguh untuk mencintai Tuhannya. Keyakinan, cara pandang, dan idealisme juga tidak bisa kita wariskan ke dalam dada mereka kalau hari ini kita hanya sibuk memikirkan dunianya. Bukan akhiratnya. Atau kita persiapkan mereka menuju akhirat, tetapi kita bekali dengan kekuatan, keterampilan, dan ilmu untuk memenangi hidup di dunia dan menggenggamnya. Betapa banyak anak yang dulu rajin puasa Senin-Kamis, tetapi ketika harus bertarung melawan kesulitan hidup, yang kemudian Senin-Kamis adalah imannya. Kadang ada, kadang nyaris tak tersisa. Na’udzubillahi min dzaalik.

Teringatlah saya dengan perkataan Nabi Ya’qub ‘alaihis-salaam saat menghadapi sakaratul maut. Allah mengabadikannya dalam Surat Al-Baqarah ayat 133:

“Adakah kamu hadir ketika Yakub kedatangan (tanda-tanda) maut, ketika ia berkata kepada anak-anaknya, ‘Apa yang kamu sembah sepeninggalku?’ Mereka menjawab, ‘Kami akan menyembah Tuhanmu dan Tuhan nenek moyangmu, Ibrahim, Ismail, dan Ishak, (yaitu) Tuhan Yang Maha Esa dan kami hanya tunduk patuh kepada-Nya.’”

Ya, “Maa ta’buduuna min ba’diy? (Apakah yang akan kalian sembah sepeninggalku?)” Bukan, “Maa ta’kuluuna min ba’diy? (Apakah yang akan kalian makan sesudah aku tiada?)”

Lalu, seberapa gelisah kita hari ini? Apakah kita sibuk memperbanyak tabungan agar kelak mereka tidak kebingungan cari makan sesudah kita tiada? Ataukah kita bekali jiwanya dengan tujuan hidup, visi besar, semangat menyala-nyala, budaya belajar yang tinggi, iman yang kuat dan kesediaan untuk berbagi karena Allah?

Kita hidupkan jiwanya dengan memberi bacaan yang bergizi, nasihat yang menyejukkan hati, dorongan yang melecut semangat, tantangan yang menggugah, dan dukungan di saat gagal sehingga ia merasa kita perhatikan. Kita nyalakan tujuan hidupnya dengan mengajarkan mereka untuk mengenal Tuhannya. Kita bangun visi besar mereka dengan menghadirkan kisah orang-orang besar sepanjang sejarah; orang-orang shalih yang telah memberi warna kehidupan, sehingga mereka menemukan figur untuk dipelajari, dikagumi, dan dicontoh.

50 tahun mendatang anak-anak kita, hari inilah menentukannya. Semoga warisan terbaik kita untuk mereka adalah pendidikan yang kita berikan dengan berbekal ilmu dan kesungguhan. Kita antarkan pesan-pesan itu dengan cara yang terbaik. Sementara doa-doa yang kita panjatkan dengan tangis dan airmata, semoga menggenapkan yang kurang, meluruskan yang keliru, menyempurnakan yang sudah baik dan di atas semuanya, kepada siapa lagi kita meminta selain kepada-Nya?

Ya Allah, ampunilah aku yang lebih sering lalai daripada ingat, yang lebih sering zhalim daripada adil, yang lebih sering bakhil daripada berbagi karena mengharap ridha-Mu, yang lebih banyak jahil daripada mengilmui setiap tindakan, yang lebih banyak berbuat dosa daripada melakukan kebajikan....

Ya Allah Yang Menggenggam langit dan bumi.... Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikanlah ia sebagai penutup keburukan dan pembuka kebaikan. Kalau sewaktu-waktu Engkau cabut nyawaku, jadikan ia sebagai jalan perjumpaan dengan-Mu dan bukan permulaan musibah yang tak ada ujungnya. Jadikan ia sebagai penggenap kebaikan agar anak-anak kami mampu berbuat yang lebih baik untuk agamamu.

Ya Allah, jangan jadikan kami penghalang kebaikan dan kemuliaan anak-anak kami hanya karena kami tak mengerti mereka. Amin. [www.hidayatullah.com]

Penulis : Fauzil adhim

Aku khawatir terhadap suatu masa

Aku khawatir terhadap suatu masa yang roda kehidupannya dapat menggilas iman.

Keimanan hanya tinggal pemikiran, yang tidak berbekas dalam perbuatan.

Banyak orang baik tapi tidak berakal, ada orang berakal tapi tak beriman.

Ada lidah fasih tapi berhati lalai.

Ada yang khusyuk namun sibuk dalam kesendirian.

Ada ahli ibadah tapi mewarisi kesombongan iblis.

Ada ahli maksiat rendah hati bagaikan sufi.

Ada yang banyak tertawa hingga hatinya berkarat dan ada yang banyak menangis karena kufur nikmat.

Ada yang murah senyum tapi hatinya mengumpat dan ada yang berhati tulus tapi wajahnya cemberut.

Ada yang berkata bijak tapi tidak memberi teladan dan ada pelacur yang tampil jadi pujaan.

Ada orang punya ilmu tapi tak paham.

Ada yang paham tapi tak menjalankan aturan.

Ada yang pintar tapi membodohi, ada yang bodoh tak tau diri.

Ada orang beragama tapi tak berakhlak dan ada yang berakhlak tapi tak bertuhan.

Lalu, di antara semua itu, di mana aku berada?

—Ali bin Abi Thalib RA

Monday, May 16, 2011

There is always the first time.

Today, it's my first time riding my motorcycle to the office. I usually took a train or drive occasionally while I'm in the friendly mood or if there's something 'very big' that urged me to do it. And you know what beloved readers?,  you won't believe me. My first impression was good, like it and it's not too bad after all :)

My office (Yes!, my present office! :p) which is in Kuningan is approximately 17 kilometers from Kukusan (about ten and a half miles) It's not quite far or hard enough for a serious well-trained real-biker (maybe they don't even sweat! *lebay*). But! For a fresh-newbie like me, it's a 'hell' :)

Buncit-Kuningan at 9 am is a real battlefield!. Trans Jakarta, Busway separator, Outmoded bus, Bikers, Cars were gathered for a 'fight'. They did everything, in every way to win the 'fight'. This is what I fear most about being in the Jakarta's Street.

But today, since I parked my motorcycle in Basement-4, I felt different. It's not that bad, maybe because there's always the first time for everything.

So readers, gotta go now. I'll write again when I have time. I'll tell you, things happen during my way back home. 

kisanak:~ kisanak$ 

Friday, April 29, 2011

Dalam Doaku

Dalam doaku subuh ini kau menjelma langit yang
semalaman tak memejamkan mata, yang meluas bening
siap menerima cahaya pertama, yang melengkung hening
karena akan menerima suara-suara

Ketika matahari mengambang tenang di atas kepala,
dalam doaku kau menjelma pucuk-pucuk cemara yang
hijau senantiasa, yang tak henti-hentinya
mengajukan pertanyaan muskil kepada angin
yang mendesau entah dari mana

Dalam doaku sore ini kau menjelma seekor burung
gereja yang mengibas-ibaskan bulunya dalam gerimis,
yang hinggap di ranting dan menggugurkan bulu-bulu
bunga jambu, yang tiba-tiba gelisah dan
terbang lalu hinggap di dahan mangga itu

Maghrib ini dalam doaku kau menjelma angin yang
turun sangat perlahan dari nun di sana, bersijingkat
di jalan dan menyentuh-nyentuhkan pipi dan bibirnya
di rambut, dahi, dan bulu-bulu mataku

Dalam doa malamku kau menjelma denyut jantungku,
yang dengan sabar bersitahan terhadap rasa sakit
yang entah batasnya, yang setia mengusut rahasia
demi rahasia, yang tak putus-putusnya bernyanyi
bagi kehidupanku

Aku mencintaimu.
Itu sebabnya aku takkan pernah selesai mendoakan
keselamatanmu

Sapardi Joko Damono, Hujan Bulan Juni

Monday, April 25, 2011

Bye Twitter

Alhamdulillah, since April 25, 2011, I also decided to close permanently my Twitter Account. So, for those who still miss me and want to 'tweep' me, you can still reach me directly by e-mail, mobile phone or even messenger :)


Wednesday, April 20, 2011

Bye Facebook

Alhamdulillah, since the beginning of March 2011, I decided to close permanently my Facebook Account. So, for those who still miss me and want to contact me, you can still reach me directly by e-mail, mobile phone or even messenger :)

Tuesday, April 19, 2011

Kalau Bosan, Main Catur saja :)

Pernah merasa bosan? atau merasa stuck dalam menghadapi atau menjalani sesuatu? entah itu karena bingung, kurangnya ilmu dan kompetensi, merasa diri sendiri sulit berubah (itu juga kalau masih bisa merasa :p dan bersyukurlah kalau memang bisa) atau sebenarnya sudah give up, tapi kurang jujur dalam menyikapinya atau kurang cerdas dalam menghadapinya?

Tenang, saya sedang tidak bicara masalah mikro pribadi saya di sini, saya lebih senang membicarakan persoalan makro, karena lebih banyak menyangkut hajat hidup orang banyak. Ya, saya sedang berbicara mengenai persekutuan alias Naamloze Vennootschaap :)

Maka jika perasaan itu muncul, menurut teori-teori dalam training motiviasi terkenal, segeralah menarik nafas, do a little process of inhalation and exhalation, rileks lah sejenak, rehat lah, dan jangan lupa tersenyum. Tapi bagi sebagian orang, kadang aksi heroik tersebut dirasa masih kurang membantu, sehingga kadang entah karena panik atau untuk buying time sementara waktu, karena belum tahu harus berbuat apa, mereka malah langsung membuka papan catur :) Lho? Eh, tapi saya sedang tidak bicara soal persekutuan di lapo lho ya. :D karena yang ini lebih mirip persekutuan pabrik kecap dari pada sebuah lapo tuak.

By the way, Anda tahu filosofi catur kan? Ya, salah satu permainan mental itu formasinya adalah: di barisan belakang, terdiri dari raja dan tujuh ajudannya. Di barisan depannya, terdiri dari poin-pion yang berjumlah delapan. Jadi selamanya, pion akan selalu berada di depan dan raja selalu nyaman di belakang. Tak akan pernah terbalik tak akan pernah berubah.

Selain posisi, langkah-langkah dalam permainan ini juga semuanya bergantung pada strategi si Mind Master, the Man behind the Scene. Apakah mau menjalankan pion yang selalu berada di depan atau ajudan yang sedang malas-malasan di belakang. Apakah harus mengorbankan pion Anda atau ajudan Anda sendiri, apakah formasinya sudah pas, apakah perlu ada yang diatur ulang lagi posisinya.

Bidak-bidak itu semuanya sepenuhnya memang mainan Anda, milik Anda. Jadi untuk mereka yang tengah merasa bosan atau suntuk, bermain catur bisa jadi salah satu solusinya. :)

Selamat bermain catur (lagi), karena ini entah sudah untuk ke berapa kalinya, semoga langkah yang Anda ambil kali ini, dapat menyelamatkan Anda dari remis abadi karena tidak bisa skat mat, atau Anda yang malah skak mat karena disebabkan oleh hobby Anda sendiri :)

Catatan kaki penting: agar selalu diingat, bermain catur bukanlah untuk mencari solusi utama Anda, tetapi hanya untuk sekedar menghilangkan rasa bosan dan penat.

So, take it easy and don't take it too seriously or personally. Cheers.

Thursday, August 16, 2007

Seribu Masjid Satu Jumlahnya

Satu
Masjid itu dua macamnya
Satu ruh, lainnya badan
Satu di atas tanah berdiri
Lainnya bersemayam di hati
Tak boleh hilang salah satunyaa
Kalau ruh ditindas, masjid hanya batu
Kalau badan tak didirikan, masjid hanya hantu
Masing-masing kepada Tuhan tak bisa bertamu

Dua
Masjid selalu dua macamnya
Satu terbuat dari bata dan logam
Lainnya tak terperi
Karena sejati

Tiga
Masjid batu bata
Berdiri di mana-mana
Masjid sejati tak menentu tempat tinggalnya
Timbul tenggelam antara ada dan tiada
Mungkin di hati kita
Di dalam jiwa, di pusat sukma
Membisikkan nama Allah ta'ala
Kita diajari mengenali-Nya
Di dalam masjid batu bata
Kita melangkah, kemudian bersujud
Perlahan-lahan memasuki masjid sunyi jiwa
Beriktikaf, di jagat tanpa bentuk tanpa warna

Empat
Sangat mahal biaya masjid badan
Padahal temboknya berlumut karena hujan
Adapun masjid ruh kita beli dengan ketakjuban
Tak bisa lapuk karena asma-Nya kita zikirkan
Masjid badan gmpang binasa
Matahari mengelupas warnanya
Ketika datang badai, beterbangan gentingnya
Oleh gempa ambruk dindingnya
Masjid ruh mengabadi
Pisau tak sanggup menikamnya
Senapan tak bisa membidiknya
Politik tak mampu memenjarakannya

Lima
Masjid ruh kita bawa ke mana-mana
Ke sekolah, kantor, pasar dan tamasya
Kita bawa naik sepeda, berjejal di bis kota
Tanpa seorang pun sanggup mencopetnya
Sebab tangan pencuri amatlah pendeknya
Sedang masjid ruh di dada adalah cakrawala
Cengkeraman tangan para penguasa betapa kerdilnya
Sebab majid ruh adalah semesta raya
Jika kita berumah di masjid ruh
Tak kuasa para musuh melihat kita
Jika kita terjun memasuki genggaman-Nya
Mereka menembak hanya bayangan kita

Enam
Masjid itu dua macamnya
Masjid badan berdiri kaku
Tak bisa digenggam
Tak mungkin kita bawa masuk kuburan
Adapun justru masjid ruh yang mengangkat kita
Melampaui ujung waktu nun di sana
Terbang melintasi seribu alam seribu semesta
Hinggap di keharibaan cinta-Nya

Tujuh
Masjid itu dua macamnya
Orang yang hanya punya masjid pertama
Segera mati sebelum membusuk dagingnya
Karena kiblatnya hanya batu berhala
Tetapi mereka yang sombong dengan masjid kedua
Berkeliaran sebagai ruh gentayangan
Tidak memiliki tanah pijakan
Sehingga kakinya gagal berjalan
Maka hanya bagi orang yang waspada
Dua masjid menjadi satu jumlahnya
Syariat dan hakikat
Menyatu dalam tarikat ke makrifat

Delapan
Bahkan seribu masjid, sjuta masjid
Niscaya hanya satu belaka jumlahnya
Sebab tujuh samudera gerakan sejarah
Bergetar dalam satu ukhuwah islamiyah
Sesekali kita pertengkarkan soal bid'ah
Atau jumlah rakaat sebuah shalat sunnah
Itu sekedar pertengkaran suami istri
Untuk memperoleh kemesraan kembali
Para pemimpin saling bercuriga
Kelompok satu mengafirkan lainnya
Itu namanya belajar mendewasakan khilafah
Sambil menggali penemuan model imamah

Sembilan
Seribu masjid dibangun
Seribu lainnya didirikan
Pesan Allah dijunjung di ubun-ubun
Tagihan masa depan kita cicilkan
Seribu orang mendirikan satu masjid badan
Ketika peradaban menyerah kepada kebuntuan
Hadir engkau semua menyodorkan kawruh
Seribu masjid tumbuh dalam sejarah
Bergetar menyatu sejumlah Allah
Digenggamnya dunia tidak dengan kekuasaan
Melainkan dengan hikmah kepemimpinan
Allah itu mustahil kalah
Sebab kehidupan senantiasa lapar nubuwwah
Kepada berjuta Abu Jahl yang menghadang langkah
Muadzin kita selalu mengumandangkan Hayya 'Alal Falah!

Emha Ainun Nadjib, 1994

Tuesday, July 03, 2007

Haji: Manusia Sejati

Jalaluddin Rakhmat

Arafah, sembilan Dzulhijjah, pada separuh kedua abad pertama Hijrah. Ratusan ribu kaum muslimin berkumpul di sekitar Jabal Rahmah, bukit kasih-sayang. Segera setelah tergelincir matahari, terdengar gemuruh suara zikir dan doa. Ali bin Husain bertanya kepada Zuhri: “Berapa kira-kira orang yang wuquf di sini?” Zuhri menjawab: “Saya perkirakan ada empat atau lima ratus ribu orang. Semuanya haji, menuju Allah dengan harta mereka dan memanggil-Nya dengan teriakan mereka.” Ali bin Husain berkata: “Hai Zuhri, sedikit sekali yang haji dan banyak sekali teriakan.”

Zuhri keheranan: “Semuanya itu haji, apakah itu sedikit?” Ali menyuruh Zuhri mendekatkan wajahnya kepadanya. Ia mengusap wajahnya dan menyuruhnya melihat ke sekelilingnya. Ia terkejut. Kini ia melihat monyet-monyet berkeliaran dengan menjerit-jerit. Hanya sedikit manusia di antara kerumunan monyet. Ali mengusap wajah Zuhri kedua kalinya. Ia menyaksikan babi-babi dan sedikit sekali manusia. Pada kali yang ketiga, ia mengamati banyaknya serigala dan sedikitnya manusia. Zuhri berkata: “Bukti-buktimu membuat aku takut. Keajaibanmu membuat aku ngeri.” (Al-Hajj fi Al-Kitab wa Al-Sunnah)

Berkat sentuhan orang yang saleh, Zuhri dapat melihat, walaupun sejenak, ke balik tubuh-tubuh mereka yang wuquf di Arafah. Tuhan menyingkapkan tirai material dan pandangannya menjadi sangat tajam. Ia terkejut dan kebingungan karena begitu banyaknya orang yang tampak pada mata lahir sebagai manusia, dan pada mata batin sebagai binatang. Apakah kebanyakan kita hanyalah manusia secara majazi (kiasan) dan binatang secara hakiki?

Ibadah haji adalah perjalanan manusia untuk kembali kepada fitrah kemanusiaannya. Kehidupan telah melemparkan kita dari kemanusiaan kita. Kita telah jatuh menjadi makhluk yang lebih rendah. Alih-alih menjadi khalifah Allah, kita telah menjadi monyet, babi dan serigala.

Ketika menafsirkan firman Tuhan: Sungguh, telah Kami ciptakan manusia dalam susunan yang paling baik. Kemudian, Kami mengembalikan mereka pada yang paling rendah dari yang rendah. (QS. Al-Tin: 4-5), Seyyed Hossein Nasr menulis: “Manusia diciptakan dalam susunan yang terbaik. Tetapi kemudian, ia jatuh pada kondisi bumi berupa perpisahan dan keterjauhan dari asal-usulnya yang ilahiah.” (Sufi Essays)

Dalam bahasa Jalaluddin Rumi, kita adalah seruling bambu yang tercerabut dari rumpunnya. Ketika suara keluar, yang terdengar adalah jeritan pilu, dari pecahan bambu yang ingin kembali ke rumpunnya yang semula. Kita hanya akan hidup sebagai bambu yang sejati bila kita kembali ke tempat awal kita. Kita hanya akan menjadi manusia lagi, bila kita kembali kepada Allah. Sesungguhnya kita kepunyaan Allah dan kepada-Nya kita kembali. (QS. Al-Baqarah: 156)

Para jemaah haji adalah kafilah seruling yang ingin kembali ke rumpun abadinya. Inilah rombongan binatang yang ingin kembali menjadi manusia. Ketika sampai di Miqat, mereka harus menanggalkan segala sifat kebinatangannya. Seperti ular, mereka harus mencampakkan kulit yang lama agar menjalani kehidupan yang baru. Baju-baju kebesaran, yang sering dipergunakan untuk mempertontonkan kepongahan, harus dilepaskan. Lambang-lambang status, yang sering dipakai untuk memperoleh perlakuan istimewa, harus dikuburkan dalam lubang bumi. Sebagai gantinya, mereka memakai kain kafan, pakaian seragam yang akan dibawanya nanti ketika kembali ke “kampung halaman”.

Di Miqat, jemaah haji menanggalkan intrik-intrik monyet, kerakusan babi, dan kepongahan serigala. Mereka harus menjadi manusia lagi. Manusia ialah makhluk yang secara potensial mampu menyerap seluruh asma Allah. Di Miqat, setelah membersihkan diri dari kotoran-kotoran masa lalunya, seorang haji keluar lagi seperti anak kecil yang baru dikeluarkan dari perut ibunya. Suci dan telanjang. Perlahan-lahan ia mengenakan pakaian kesucian, kejujuran, kerendahan hati, dan pengabdian. Dengan wajah yang diarahkan ke Rumah Tuhan, dengan hati yang sudah dibersihkan dengan taubat yang tulus, ia berkata: “Ya Allah, aku datang memenuhi panggilanMu.”

Di Rumah Tuhan, para haji memperbaharui baiat mereka dengan mencium Hajar Aswad. Mereka berputar bersama para malaikat di sekitar Arasy, menandakan keterikatan kemanusiaan mereka dengan Ketuhanan. Di Arafah, seruling-seruling itu sudah menyatu dengan rumpun bambunya. Al-Hajju ‘Arafah. Di Arafah itulah haji. Di situlah bergabung semua manusia dalam kedalaman lautan ketunggalan Tuhan, fî lujjati bahri ahâdiyyatih.

Berapa banyakkah di antara jutaan orang yang beruntung dapat berhimpun di Arafah adalah haji, manusia yang sudah kembali kepada Tuhannya? Berapa besarkah di antara mereka yang kumpul di Arafah tahun ini yang sudah meninggalkan selama-lamanya sifat-sifat kebinatangannya dan sebagai gantinya menyerap rahman-rahimnya Allah? Kita tidak tahu. Dahulu, ketika umat Islam masih belum mendunia, hanya sedikit yang haji. Dalam pandangan Zuhri, kebanyakan masih bertahan dalam kebinatangan mereka. Kini, kita berdoa, mudah-mudahan mereka semua menjadi haji yang mabrur. Artinya, manusia sejati yang tubuhnya menapak di bumi tapi ruhnya bergantung ke Arasy Tuhan.

Ketika mereka kembali ke tanah airnya, mudah-mudahan mereka menyebarkan berkat ke sekitarnya. Ketulusan hati mereka menusuk jantung orang-orang munafik. Air Zamzam yang mereka bawa menjadi tetes-tetes mukjizat yang mengubah monyet yang licik menjadi manusia yang jujur. Kesucian batin mereka menghantam kepala para pecinta dunia. Air mata mereka keluar membersihkan babi-babi yang serakah dan mengubahnya menjadi manusia yang dermawan. Akhirnya, kerendahan hati mereka menghantam kepala para tirani pemuja kekuasaan. Cahaya wajah yang sudah disinari Ka’bah mematahkan leher serigala yang pongah dan mengubahnya menjadi manusia yang penuh kearifan dan kasih sayang. Betapa perlunya negeri ini dengan kehadiran para haji! []

Thursday, June 28, 2007

Rumah Tuhan, Lamunan Ar-Royyan, Bojong-Surabaya-Malang PP.

Oleh: Bintoro WP.

Surabaya. Sendiri. Malam ini saya terprovokasi tulisan Cak Nun –saya terbiasa memanggilnya demikian sejak 1992 ketika kali pertama saya berjumpa dengan Emha Ainun Nadjib di tabloid Detik, yang dikirim Pak Yahya untuk menulis pengalaman bulan-bulan terakhir, ketika saban minggu pulang ke Bojong. Thx to Pak Yahya, blog Anda begitu inspiratif.

Dalam hati, siapapun yang diberi kesempatan pergi berhaji, hendaknya mampu menjadikan hamparan puing di bekas Arroyyan tak lagi mengganggu mata dan hati saya.

Apa kaitan gerangan Arroyyan dan perjalanan berhaji. Simak ungkapan seorang sufi, ”pada perjalanan haji yang pertama, saya hanya melihat rumah Tuhan. Pada saat yang kedua, saya melihat rumah Tuhan dan pemiliknya. Dan pada saat yang ketiga, saya hanya melihat Tuhan saja” Begitu ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy.

Hadits qudsy yang cukup terkenal berbunyi; Sesungguhnya rumah-Ku di muka bumi adalah Masjid-masjid. Menekankan kepada kita akan pentingya keberadaan dan fungsi masjid-masjid, sebagai rumah Tuhan di alam dunia.

Saya bertanya dalam hati, seperti apa sebenarnya konsep kita tentang rumah Tuhan ini. Entah mengapa, sepulang ngopi dirumah tetangga, saya teringat judul cerpen yang begitu berani. Robohnya Surau Kami, karangan almarhum Ali Akbar Navis yang saya baca ketika awal SMP, dan kini terbit lagi dalam bentuk antologi, oleh Gramedia Pustaka.

Saya terhenyak, Navis bukan hanya piawai dalam penyampaian yang mengharukan. Kisah ini menampar saya tentang perlunya menjaga kelestarian rumah Tuhan melalui acara sosial keagamaan yang bermanfaat serta mampu memancarkan optimisme hidup bagi orang banyak.

Melalui tokohnya, seorang pembual bernama Arjo Sidi—Navis mengajak saya memelihara bangunan rumah Tuhan dari segala potensi bahaya yang mampu merobohkannya. Termasuk di dalamnya kekeroposan pilar keagamaan --iman dan akidah serta kejumudan beragama para pengelola dan jamaaahnya.

Tidak. Arroyyan tidak sama dengan surau yang digambarkan Navis. Warga di komplek ini tidak sama dan sebangun seperti yang ia gambarkan di desanya, tanah Minang sana. Di Bojong, setahu saya, tidak ada pembual seperti Arjo Sidi.

Tapi, dalam cerpen itu Navis sepertinya ingin menandaskan, di saat masjid, musholla, surau, langgar telah dimonopoli oleh tangan segelintir pengelolanya, maka saat itulah hak milik bangunan sebagai rumah bersama, dirampas dari kepemilikan sosial masyarakat secara kolektif. Tidak. Arroyyan tidak akan mungkin demikian.

Istri saya menegur. “Kamu saja jarang menyambangi Arroyyan, sok khawatir. Demikian curiganya kamu. Begitu negatifnya otakmu.”

Tidak. Arroyyan tak mungkin demikian. Tapi, entah kenapa selesai membaca, saya teringat seorang Wiji, marbot Arroyyan yang orang Tingkir itu. Bukan, Wiji bukan marbot seperti kakek yang digambarkan Navis. Saya banyak tahu Wiji ketika menemaninya mengerjakan bale RT.

Malam, minggu berikutnya saya membuka lembar jurnal Ulumul Qur’an, edisi III, 1995. Di halamannya terdapat tulisan Ikun Eska, Sebuah Rumah Buat Tuhan. Saya berharap, saya mendapat jawab, tentang arti sejati dari rumah Tuhan.

Ikun bercerita dengan memikat, bagaimana sebuah masjid di desa Jarot --tokoh cerpen yang berkeinginan mengembalikan fungsi masjid, dalam kenyataan keseharian hanya berguna sebagai tempat ritual yang bersifat seremonial belaka. Pak Kamituwa --wakil dari otoritas penguasa, telah mengunci mati masjid indah itu, dan menjauhkannya dari kebutuhan publik yang tak lain adalah tiang utama dari pembangunan rumah Tuhan tersebut.

Sehingga, kala suatu ketika desa itu dilanda hujan badai, masjid itu tetap tak mampu menjadi penampung yang baik. Masjid Jarot tak dapat menolong warga dari deraan musibah. Banyak korban bergelimpangan di di luar masjid. Dan, di tangan Pak Kamituwa –yang juga simbol dari ortodoksi pemikiran, sebuah masjid yang begitu megah telah menjadi hadiah bagi Tuhan. Hehe, Dzat yang sama sekali tak membutuhkannya. Apalagi hal itu sampai mengorbankan warga --jamaah masjid, sebagai tumbal dari ritual yang tidak pada tempatnya.

Alamak. Bojong tidak ada angin ribut. Atau semoga angin ribut tidak datang ketika Arroyyan belum berdiri megah seperti gambarnya itu. Entah siapa pula yang berimajinasi demikian tinggi, gambarnyapun begitu sulit diakses publik. Eh, boro-boro gambarnya, transparansi pembangunannya pun kini banyak digugat. Konon, intrik juga sempat melanda. Benarkah praktek politik kotor sudah meracuni warga? Cermin dari rusaknya struktur sosial? Tidak, saya menghibur diri.

Di komplek perumahan Gaperi yang jalannya hancur dan warganya tak bernyali menagih developer itu, kami siap bahu membahu menolong sesama. Tidak, tak ada pula tokoh macam Pak Kamituwa seperti Ikun lukiskan. Yang ada Pak Eman yang sekampung dengan Cak Nun dan doyan gaple itu.

Esok paginya, saya mendapati bapak. Ayah saya yang stroke dan kini memilih meninggali rumah samping Pak Saerang. Di bale bambu Bapak menggenggam buku. Tak berani saya mengganggu. Ketika berhaji 1997, tendanya ikut terbakar.

Pak, seperti apa konsep rumah Tuhan itu?

Dia tersenyum, seperti mampu membaca pikiran saya. Ia mengutip Buya Hamka, “rumah Tuhan mesti bisa berfungsi sebagai tempat introspeksi dimana semua orang nyaman bertafakkur dan memohon kepada Tuhan untuk menganugerahkan kesabaran dan keteguhan dalam mengarungi kehidupan.”

Sederhana. Bapak juga mengutip kutipan yang lebih lugas dari Najib Mahmud dalam buku Ru’yah Islamiyah, “masjid yang sejati terbangun dalam nurani,” katanya dengan lafal lidah tpikal penderita stroke, pelo dan cadel. Hiyaa!

Saya bertambah kalut. Bagaimana mungkin Arroyyan, masjid yang jarang saya sambangi itu mampu mengusik saya. Bangunan Arroyyan dengan bilik bambu medio 1997 sekelebat terlintas memenuhi isi kepala yang makin hari makin tipis berambut. Saya tahu, kenapa Arroyyan bambu lebih lama tinggal di memori. Pak Zainal, Pak Budi Wibowo dan Pak Hendro pernah menyenggol, “dulu semua orang butuh, semangat kebersamaannya ketika itu luar biasa pak.” Aha, kiranya semangat kebersamaan itulah yang mampu memberi ruh Arroyyan bambu? Hiyaa! Masjid yang sejati terbangun dalam nurani.

Kembali ke rumah. Entah mengapa saya teringat Gus Mus di Rembang. Dua minggu sebelum Soeharto jatuh, saya sempat berdiskusi mengenai maraknya masjid dibangun di sepanjang daerah miskin pantura Jawa. Saya hanya ingin tahu, bagaimana mungkin orang giat membangun masjid megah sementara sekelilingnya warga kesulitan mencari makan.

Ia menerangkan tentang pasokan dana dan sebagainya. Tapi yang menampar saya ketika itu, KH. Mustofa Bisri –nama lengkap Gus Mus, juga mengungkapkan keresahannya. Bahwa menjamurnya masjid dengan bentuk fisik yang serba megah di mana-mana, pada derajat tertentu, malah kian mengasingkan para jamaah untuk masuk ke dalamnya. "Masjid menjadi semakin tertutup, begitu pula para pengelolanya, eksklusif menikmati singgasananya".

Di balik kemegahannya, bayangan biaya pembangunan dan anggaran perawatan membuat khalayak sering dihinggapi semacam rasa sungkan, malu dan rendah diri untuk berlama-lama di dalamnya. “Makanya, wajar bila Nabi dalam sebuah haditsnya pernah menggambarkan bahwa salah satu tanda-tanda kiamat adalah gejala saling bermegah-megahan dalam membangun masjid,” kata Gus Mus suatu malam.

Satu sisi Gus Mus benar. Tapi Arroyyan bukan hanya membangun masjid. TPA dibawah bendera lembaga pendidikan dan koperasi dibawah bendera lembaga usaha katanya juga akan diakomodasi dalam bangunan itu. Jadi wajar saja membangun dengan menyedot ratusan juta. Tapi, secara imajiner, senyum Gus Mus malam ini seperti meledek.

Seorang kawan se komplek perumahan menyenggol lewat Yahoo! Messenger beberapa hari yang lalu. Kita tuh banci Pak. Kok gak fokus? Mau bangun apa sebenarnya kita ini? Seharusnya kita malu dengan Assalam di kampung depan itu. Struktur organisasi mereka simply, santai aja tuh mereka beragamanya.

Tetangga lain nimbrung. Pak, kenapa ya kita tidak serahkan sesuatu hal kepada ahlinya, kok kita malu mengakui kompetensi orang? Bukankah pendelegasian yang baik adalah kunci sukses seorang pemimpin? Saya buru-buru sign out, ingin segera pulang membungkam mulut mereka. Jikapun tidak, ingin rasanya menghajar pantat mereka untuk lebih berani mengutarakannya kepada yang berwenang. Ampun.

Cak Nun, jika saja mampu berhaji, saya bukan haji racun seperti yang sampean maklumkan. Ah, kenapa saya takabur begini rupa. Insya Allah tidak Cak. Minimal, saya punya modal, selalu membelikan kerabat maupun kenalan buku Menjadi Manusia Haji karangan Dr. Ali Syari’ati setiap kali mereka hendak berhaji. Saya ingat betul tentang telaah sosial dan filosofis yang ia gambarkan dalam ritual kolosal umat Islam tiap tahunnya. Rumah Tuhan adalah rumah umat manusia.

Farah Amini, karib sejawat di kantor, orang terakhir yang saya beri. Dia berumroh dua minggu lalu. Semalam dia menelpon dari kantor barunya di Menara Kadin, Kuningan. Berdiskusi dan melaporkan perjalanannya. "Minimal kini saya tahu Mas, kenapa Ka'bah tidak dibongkar!" Sebelumnya Pak Zainal, kawan saya ngopi di rumah dengan harapan agar ia segera berangkat.

Saya teringat ketika ayah berhaji, beberapa bulan sebelum saya menikah, saya menangis sejadinya karena buku itu. Berhaji berarti bersiap mati, sehingga setelah berhaji orang seperti dilahirkan kembali.

Ali Syari’ati dan sanak kerabat –NU atau Muhammadiyah atau apapun mazhabnya yang pernah berhaji bersepakat memberi kesaksian, drama monumental Haji adalah momentum yang pas dan kontekstual untuk menggugat kembali kesadaran manusia dalam pergaulannya dengan rumah Tuhan.

Pada hakekatnya, haji merupakan perjalanan ritual yang sepenuhnya tak bisa lepas dari nuansa kemanusiaan. Selain perjumpaan dengan pengalaman spiritual yang mengesankan, di dalamnya juga dipenuhi beragam ujian berupa rajukan setan yang selalu berusaha menggelincirkan setiap pelakunya. Haji adalah serangkaian perisitiwa dengan aneka makna. Ia bisa berupa sekadar kejadian biasa dalam dimensi yang sarat dengan hasrat dan denyut nadi kemanusiaan, juga bisa berwujud sederetan tragedi yang konyol, memukau, haru biru, kelabu dan bahkan lucu.

Pada titik ini, Alm. Navis dan Ikun, juga pengalaman kita semua di kampung halaman dan masa kecil, dapat memberikan sumbangan yang berarti bagi dinamika dan penyadaran hidup keagamaan.

Sekali lagi Cak, jika saja saya berhaji, saya ingin menjadi bagian dari gempita kepasrahan kolosal yang membahana itu. Saya tahu, sebagai pelaku, saya terlibat untuk menyaksikan secara langsung napak tilas sejarah beserta situs peradaban yang bernilai religi itu.

Sebab, kata Ali Syari’ati, keberadaan Ka’bah atau Baitullah tak dapat disangkal merupakan simbol yang memiliki daya pikat paling kuat dibandingkan simbol-simbol yang lain. Selain sebagai kiblat shalat, Ka’bah merupakan lambang dari kekuatan tauhid – monoteisme, yang obornya dinyalakan oleh Ibrahim. Ia tidak hanya cukup didekati dengan cara berkeliling di sekitarnya. Lebih dari itu ia membutuhkan simpul tali keagamaan yang kuat dalam upayanya untuk mengakrabkan hubungan hamba dengan penciptanya. Bukan begitu Cak? Taraf kedekatan semacam inilah yang diidealkan pencapaiannya oleh para pelaku haji, sebagaimana telah dirasakan melalui ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy diatas.

Seketika saya ingin mengadu kegundahan kepada Suami Novia Kolopoking ini –kawan SMA adik saya. Tapi dia kini tengah sibuk mengadvokasi saudara-saudara korban Lapindo. Sekalipun sama-sama di Surabaya, saya begitu sulit menemuinya.

Saya tumpahkan kegundahan saya kepada Pak Arief Lukman Hakiem. Kawan sekantor yang berasal dari Madura. Jago masalah tanah dan pertanian, dan sempat beberapa tahun berguru di Jerman. Dua jam lebih kegundahan ini dan silang sengkarut pikiran tentang Arroyyan, Bojong, Navis dan Ikun saya pindahkan ke kepalanya.

“Mas tahu, apa yang dilakukan ketika Nabi pertama kali menginjakkan kaki di Yatsrib, sekarang Madinah?” tanyanya. Dengan gaya maduranya, dia menjawab sendiri. Pertama, sebelum Nabi Muhammad menginjakkan kakinya di Madinah, maka Beliau membangun masjid, yakni masjid Quba. Kedua, tindakan mendasar yang dilakukan oleh Nabi Muhammad --lelaki yang sangat bersahaja itu-- adalah menemui dan melayani fakir miskin.

Lalu Pak Arif?

“Dari dua pengalaman Rasulullah itu Mas, selama hidup seharusnya kita menyinggahi dengan memberdayakan masjid yang fungsi utamanya bukan sekadar tempat shalat. Tak perlu megah dan bermewah-mewah, menjadikannya rumah buat semua umat. Dan, menyantuni fakir miskin, anak yatim dan kaum tertindas. Keduanya adalah tempat seorang muslim diuji kebenaran komitmennya dalam mengemban amanat Sang Khalik.”

Bapak asal Sampang --belum berhaji, beranak dua yang baru saja pindah dari Surabaya ke Malang ini juga bercerita penuh semangat dengan kutipan isi buku Dr. Ali Syari'ati dalam memotret suasana kehadiran Rasulullah saat menginjak tanah Yatsrib.

“Mas Bin, kenapa Tuhan mengijinkan Ibrahim menguburkan istrinya, Siti Hajar yang mantan budak, berkulit hitam asal Ethiopia itu tepat di sisi Ka’bah?”

Masih dengan gaya maduranya ia menjawab sendiri. Tuhan sangat setuju dengan pembelaan terhadap orang-orang tertindas. Tuhan telah menorehkan simbol tauhid dan pembebasan. Tanggapan terhadap tangisan kaum tertindas adalah jawaban terhadap panggilan Allah. Mengabaikan tangisan kaum tertindas sama dengan mengabaikan panggilan Allah.

Lalu Pak Arief, pada perjalanan ke berapa saya mampu menangkap ungkapan Abu Yazid Al-Bustamy?

"Tidak mungkin Mas Bin. Pertama, kita semua belum bebas, minimal merdeka berpikir. Kedua, Anda hanya melakukan perjalanan Bojong-Surabaya-Malang pulang pergi saban minggunya."

Dasar Pak Arief!

Ala kulli haq, sampai ketemu, dimanapun.

dengan segala permaafan,
Surabaya - Malang
June, 27, 2007

Popular Posts